Sabtu, 31 Desember 2011

Close Ur Mouth

Universal star Kim Heechul Super Junior dan TRAX‘s gitaris Kim Jungmo baru-baru ini bekerja sama untuk sebuah project grup yang dinamai   M&D, singkatan untuk “midnight and day.”
cinta- menggembirakan, orientasi teman, Jenaka, and dan bertalenta. F.T. Island‘s Choi Jonghoon dan Lee Hong Ki, Supreme Team‘s Simon D, miss A‘s Jia,komedian Kim Kyung Jin, dan Beast’s Yong Joong Hyung tampil dalam MV ini bersama Heechul.

Leessang

Leessang (리쌍) is a Korean hip hop duo, comprised of Kang Hee-gun ("Gary") and Gill Seong-joon ("Gill"). Formed in 2002, Leessang is known for its collaborations with Drunken Tiger, T, Big Mama King, Park Hwayobi, and many others.
Both members were once a part of a large Hip-Hop group called Honey Family. They fair share of popularity with their debut single 'Rush' which contained a sample from the American group the Stylistics. The members of Leessang are also part of the Hip-Hop coalition known as The Movement, which was started by Drunken Tiger.
Gary
  • Birthname: Kang Hee-gun (Hangul: 강희건)
  • Date of Birth: February 24, 1978 (age 33)
  • Height: 1.74 m (5 ft 8 12 in)
Gil
  • Birthname: Gil Seong-joon (Hangul: 길성준)
  • Date of Birth: December 24, 1977 (age 34)
  • Height: 1.78 m (5 ft 10 in)
Album
1. Leessang Of Honey Family
2. 再,啓發 (재, 계발)










For Me

Aku Tidak Berani
Kalender di meja menunjukkan tanggal 2 Januari 2012 di hari Senin. Hari kedua diawal tahun 2012 ini diawali dengan pagi yang cerah. Di sebuah ruang berdinding 5 sisi dengan design artistic dari kayu ini berisi 1 bagian dinding yang dihiasi rak buku besar hingga menyentuh lagit – langit ruangan  yang berisi penuh buku. Hingga diperlukan tangga untuk meraih buku yang berada di rak paling atas. Dinding satunya berwarna putih menyatu dengan 2 tangan jam yang bergerak dengan berjalannya waktu dan 3 dinding lainnya terbuat dari kaca, langsung menembus ke beranda kamar dengan lukisan pemandangan halaman belakang. Di halaman ini terdapat tanah hijau luas bertebaran bunga lily, mawar putih dan bunga berwarna putih lainnya. Di barisan bunga lily, ada seorang wanita muda yang sangat cantik tak beralas kaki, mempunyai kaki panjang berkulit putih dan mulus, menggunakan gaun pendek berwarna putih tak berlengan, dengan rambut berwarna hitam lurus yang terurai hingga pinggangnya. Wajahnya secantik bunga lily dengan mata besar dan bulu mata yang lebat, alis tebal, dan bola mata berwarna cokelat jernih. Hidung yang mancung, bibir berbentuk delima yang terbelah berwarna merah.Wanita ini sedang menyiram bunga – bunga kesayangannya dengan pipi yang memerah saat ia tersenyum.
“Akan aku siram kalian setiap pagi seperti yang bunda lakukan pada kalian saat ia masih hidup. Ooh, kalian cantik sekali. Aku suka sekali.” Ucap Lily dengan keterpesonaannya dengan bunga – bunga kesayangannya itu.
10 menit berlalu dan hari tiba – tiba menjadi mendung.
“Wah, jadi dingin. Lagitpun menjadi delap. Sepertinya akan turun hujan. Aku harus segera masuk.” Lily berjalan ke beranda kamarnya dan menyimpan alat siramnya di sebuah meja kecil. Lily membuka keran di samping meja kecil itu dan mencuci kakinya. Kemudia ia masuk ke kamarnya setelah mengeringkan kakinya dengan handuk.
“Em, jam 5 pagi.” Lily melihat ke arah jam. Lalu, dia masuk ke kamar mandi. Dia membuka bajunya dan berendam di bathtub yang sudah berisi air wewangian.
Setelah selesai mandi, Lily siap di depan cermin besar dengan jas setelan berwarna putih, kemeja biru jeans, rok putih span pendek hingga lutut dan sepatu dengan hak 12 cm berwarna putih. Ia menyisir rambutnya dan mengikatnya dengan pita berwarna putih. Lalu, dia mengambil tasnya yang bermerek J.Mosa berwarna biru jeans. Tak perlu berdandan lebih, hanya dengan lipstick berwarna pink soft, dia mengambil kunci mobilnya dan berjalan ke arah garasi rumahnya. Setelah mobil dinyalakan, pintu garasi dengan otomatis terbuka dan Lily mengendarai mobilnya menuju kantornya. Lily adalah seorang direktur utama di perusahaan keluarganya. Perusahaan ini bergerak di bidang entertainment. Dan salah satu pekerjaan Lily adalah mengadakan konser di berbagai Negara atau bisa disebut seorang promoter. Lily sangat dihormati karyawan kantornya.

Di ruangan direktur utama Nabella…
Lily menaruh tasnya di atas meja kerjanya dan mengeluarkan handphonenya. Ada 1 panggilan tidak terjawab.
“Juan? Ada apa dia menelfonku?”
Tak lama, ada panggilan lainnya.
“Hallo, Lily. Kamu dimana?”
“Hai, Juan. Aku lagi di..”
“Hai, Lily.” Pintu ruangan terbuka dan masuk seorang pria yang tingginya sekitar 185 cm dengan setelan jas berwarna biru jeans, kemeja dan celana berwarna putih, yang di telinganya masih terdapat headset yang tersambung Bluetooth di handphonennya. Pria ini melepas headsetnya dan tersenyum.
Lily menaruh handphonenya dan ikut tersenyum.
“Tidakkah kau terkejut?”
Lily hanya tersenyum.
“Dengan kedatanganku?”
“Untuk apa aku terkejut? Kau selalu melakukannya setiap kau pulang concert tour.”
Pria itu tersenyum.
“Tak ada oleh – oleh untukku?” Tanya Lily pada pria itu.
“Tak ada Bear Hug untuk kedatanganku?”
Lily berdiri dan memeluk pria itu.
“Juan, seperti 1 tahun tak bertemu. Aku merindukanmu.”
Juan tertawa “Hanya 350 hari tidak bertemu.”
Lily tersenyum.
Juan masih memeluk Lily, tangannya mengambil sebuah kotak dari saku jasnya.
“Juan, ayahku menelfonku dari New York.”
Juan membuka kotak yang berisi sebuah cincin berlian itu.
“Apa ayahmu sehat?” Tanya Juan pada Lily.
“Dia sangat sehat.”
“Li, aku mau bicara.”
“Tapi, Juan. Dia menyampaikan padaku untuk segera menikah. Dia menjodohkanku dengan anak dari temannya dari Korea.”
Juan yang terkejut tak berkata apapun.
“Aku sudah bertunangan dengannya 349 hari lalu. Maaf aku tidak memberitahumu.”
Juan menutup kembali kotak cincinnya dan dengan cepat memasukkannya ke dalam saku jasnya lagi.
Juan masih tidak melepaskan pelukannya.
“Aku akan menikah awal February nanti. Tak kusangka akan secepat itu.”
Dengan tawa yang dipaksa, “Hahaha.”
Lily melepas pelukannya. “Kau tertawa?”
Juan tersenyum.
“Tidakkah kau terkejut atau marah?”
“Terkejut sih iya. Tapi, untuk apa aku marah?”
“Ah, tidak.”
“Aku terkejut hanya karna aku terlambat 349 hari untuk melihat kau dipinang orang lain. Selebihnya, aku sudah tahu kalau hari itu akan datang. Pria mana yang tidak akan suka wanita sepertimu? Wanita yang mendapat S1nya di usia 19 tahun, cantik, dan smart sepertimu. Oh iya, apa dia sudah menyatakan perasaannya padamu? Orang seperti apa dia? Orang hebatkah? Tinggi? Tampan?”
“Tidakkah kau orangnya? Kau tidak pernah menyukaiku lebih dari seorang sahabat.”
Juan tidak menjawab.
“349 hari lalu, terakhir kali aku kontak dengannya. Sekarang dia masih di Korea dan akan ke Indonesia akhir bulan nanti. Aku akan pindah kewarganegaraan dan menetap di sana selamanya. Dia duta anak di lembaga dunia UNESCO, satu – satunya pewaris perusahaan nomer satu di Korea. Tingginya 186 cm. Dan dia sangat tampan, karna dia blasteran Korea Eropa. Lebih tampan dari Lee Min Ho yang selama ini aku suka.”
Juan tersenyum.
“Sehebat itukah dia?”
Handphone Juan berdering.
“Hallo…”
“blablabla…”
“Aku akan segera ke sana”
Juan mematikan telfonnya dan memeluk Lily.
“Aku harus segera pergi, Lily. Jangan lupa antarkan undangan untukku.”
Juan berjalan ke luar ruangan.
“Sial, aku kalah tinggi 1 cm.”
Lily kembali ke mejanya dan duduk di kursinya.
“Dia tidak sehebat kau yang bisa memenangkan hatiku, Juan.”

Di tempat latihan Crown.
“Dari mana saja Juan?” Tanya manager Rey.
“Dari mana lagi, kalau tidak dari Nabella?” Ucap El dengan maksud menyindir.
Juan tidak berkata apapun dan duduk di samping managernya.
“Apa direktur Lily bicara sesuatu denganmu?”
Juan melirik managernya.
“Tentang dia mau menikah? Iya, dia sudah sampaikan itu padaku.”
“Kalian mau menikah?” Tanya Iris.
“Hanya dia dan tanpa aku.”
“Common guy. Don’t be sad.” Ucap Milo.
“Atas? Aku bahagia dengan kabar itu. Sudah, jangan dibahas lagi. Nanti juga segera dikirim undangannya. Ada apa menager?”
“Oh, ini kebetulan. Ada kontrak dari Nabella. Mereka akan mengadakan konser terakhir untuk memperingati Lily sebagai pemimpin perusahaan terakhir mereka. Mereka mengundang kita untuk ikut serta dalam konser. Sebenarnya aku kira kau sudah tau dari direktur.”
“Oh yang itu. Iya dia juga sudah beritahukanku.”
“Oooh. Lalu?”
“Kenapa kau Tanya itu padaku? Tanya Ellah. Diakan leadernya.”
“Mendengar kau bicara seperti itu, aku rasa lebih baik aku bertanya padamu.” Ucap manager Rey.
“Aku? Oke kalau begitu. Lagi pula Lily itukan sahabatku.” Ucap Juan.
“Oke. Konser akan diadakan tanggal 2 Februari nanti.” Ucap Manager Rey yang kemudian berdiri dan keluar dari ruangan.
“Oke guys. Ayo kita latihan.” El berdiri dan mengambil gitarnya. Milo mengambil bassnya dan Iris duduk di kursi drumnya.
Sementara, Juan masih duduk di kursinya dan melamun.
Iris memukul drumnya, dan Juan terkejut.

Di rumah Lily…
Lily turun dari mobilnya dan masuk ke rumahnya.
Kemudian ia duduk di sofa ruang tengahnya. Dia hanya terdiam.
Di waktu yang sama…
Setelah latihan selesai, Teman – teman Juan yang lain keluar dari tempat latihan.
“Kau ikut tidak?” ucap Iris.
“Tidak, aku mempunyai insipirassi untuk lagu baru kita.”kata Juan.
“Judulnya Pergi dengannya dan Tinggalkan aku.” Ucap El dengan nada meledek.
Juan hanya melirik dan teman – teman yang lain tertawa.
Suara pintu tertutuppun terdengar.
Juan mengambil jasnya yang ia letakkan di atas meja. Ia mengeluarkan kotak cincinnya.
“Aku terlambat atau aku seorang pengecut?”
Juan mengeluarkan cincinnya dan memandanginya.
“349 hari? Itu hari aku membeli cincin ini. Aku hanya terlambat beberapa masa saja kan?”
Juan menaruh kembali cincin itu di kotaknya.
“Tapi tetap saja. Saat itu aku tidak berani untuk mengatakannya.”

Di rumah Lily…
Lily masuk ke ruang pakaiannya. Ruangan itu terdapat barisan pakaian Lily yang mewah. Rak sepatu heels, lemari accessories dan barisan tas bermerek. Lily menaruh tas biru jeansnya yang bermerek J.Mosa. Dia memandangi tas itu.
“Kau hanya punya keberanian untuk melengkapi hidupku tapi tidak berani untuk memilikiku. Kau ini, sebenarnya kenapa Juan? Saat kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat ada yang menggodaku, kau berani untuk memukulnya. Saat aku hampir tertabrak mobil, kau berani menggantikanku hingga membuatmu masuk rumah sakit. Tapi, kenapa untuk menyatakan perasaanmu saja kau tidak berani. Aku tahu kau mencintaiku. Seandainya ayah tidak menyetujuinya, aku mau ikut denganmu apapun keadaanmu. Juan, aku tidak mungkin menyatakan perasaanku padamu. Itu akan menyakitkanmu. Tapi, aku bingung, aku harus apa? Aku mencintaimu.” Lily jatuh dan duduk di lantai. Air matanya mengalir.

Hari terus berganti. Crown band terus latihan dengan serius. Lily dan karyawannya sibuk mempersiapkan konser yang dihadiri lebih dari 50 artis dalam dan luar negeri, mempersiapkan tata dan design panggung. Semuanya berjalan dengan sangat lancar.
Di hari ke 10 menjelang konser, Crown band datang ke gedung Nabella. Mereka akan mulai latihan di studio milik perusahaan.
Saat istirahat siang, Lily keluar dari toilet. Kebetulan lewat Juan yang juga mau ke toilet. Mereka saling bertatapan dan suasana menjadi kaku. Lily melanjutkan jalannya tanpa manyapa atau tersenyum pada Juan.
Juanpun tidak berkata apapun. Ia berhenti sebentar. Raut wajahnya menunjukkan perasaannya yang sangat sedih.

Lily masuk ke ruangannya dan berdiri di balik pintu. Wajahnya terlihat sedih. Lalu, terdengar ketukan pintu. Lily langsung berjalan kea rah mejanya. Sekertarisnya masuk.
“Direktur, Tuan Kang ingin bertemu.” Ucap Sekertarisnya memberitahukan kedatangan calon suami Lily.
Sekertarisnya keluar dan masuk seorang pria tinggi dengan setelan jas rapih berwarna putih dengan dasi berwarna biru jeans. Stylenya sangat persis dengan yang Lily gunakan saat itu, setelan jas putih dengan syal berwarna biru jeans.
Pria itu mengangkat tangannya dan menyapa Lily lalu tersenyum.
Lily tidak membalas dan hanya berdiri di depan meja kerjanya.

Di ruang latihan…
Juan duduk termenung. Teman – temannya yang lain sedang sibuk latihan.
Tiba – tiba Juan berdiri dan meninggalkan ruangan.
“Juan!” Panggil El.
Juan berjalan menuju ruangan Lily.

“Em, bagaimana kita harus memulainya ya?” Ucap Ji Joon.
Lily masih diam saja.
Ji Joon menghampiri Lily dan memegang tangan Lily. Lily hanya menatap Ji Joon.
Ji Joon berkata sesuatu.

“Aku harus bicara dengannya. Aku harus katakan padanya.” Ucap Juan.
Juan berjalan dan masuk ke dalam lift. Juan menekan tombol lantai 9. Juan seperti menyesali ketakutannya.
Saat sudah sampai di lantai 9, pintu lift terbuka. Dia berjalan ke arah ruangan Lily. Dia membuka pintu ruangan Lily.
Dia melihat sekitar, tapi dia tidak bisa menemukan Lily.
Sekertaris Lily menghampiri Juan.
“Maaf, Direktur barusan keluar dengan tuan Kang.”
“Tuan Kang?”
Rupanya, saat Juan keluar dari lift. Ji Joon memegang tangan Lily dan menarik lily masuk ke dalam lift. Namun, Juan tidak menyadarinya.

Di dalam lift…
Ji Joon melihat jam di tangan kirinya dan tangan kanannya masih memegang tangan Lily.
“Masih jam makan siang. Apa kau sudah makan?” Tanya Ji Joon pada Lily.
Lily masih bungkam dan hanya menatap ke arah Ji Joon tanpa ekspresi.
“Terakhir aku melihatmu, kamu tidak sediam ini. Aku masih bisa memakluminya. Kamu pasti masih terkejut dengan kedatanganku yang tiba – tiba kan?”
Pintu lift terbuka.
Ji Joon memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celananya dan menarik tangan Lily.
Lily dan Ji Joon menjadi pusat perhatian para karyawan. Bahkan karyawan yang ada di dalam lift sebelah, tidak menutup pintu lift untuk melihat pasangan itu.
Lily dan Ji Joon terlihat sangat serasi. Apalagi dengan gaya berpakaian mereka yang sangat serasi.
Dari arah yang berlawanan, personil Crown jalan membawa gitar dan tas mereka. Lily dan Ji Joon berjalan bergandengan tangan di depan mereka dan membuat mereka terkejut.
Ji Joon mengeluarkan handphonenya dan menyuruh supirnya untuk menunggu di depan pintu masuk gedung nabella.
“Juan mana?” Ucap El.
“Kita harus menemukannya.” Ucap Milo. Lalu, personil Crown band masuk ke dalam lift dan mencoba menelpon Juan.
Di depan pintu masuk, Lily dan Ji Joon menunggu mobil Ji Joon sambil terus berpegangan tangan. Tak lama, mobil Ji Joon datang.
Ji Joon membuka pintu mobil depan. Supir Ji Joon keluar dan membungkukkan badannya untuk memberi salam.
Lily duduk di kursi depan dan Ji Joon masuk ke dalam mobil. Mereka tidak menggunakan supir. Ji Joon menarik safety belt Lily dan memakaikannya lalu, dia juga memakai safety beltnya dan menyalakan mobilnya.
“Em, aku baru di sini. Jadi, aku tidak tahu jalan. Kamu harus tunjukkan jalannya. Aku lapar dan aku harap kamu mau menemaniku makan.”
Lily hanya menatap Ji Joon.
“Kita belum dekat, jadi aku tidak bisa bertelepati denganmu atau menggunakan bahasa mata. Li, aku serius tentang aku tidak tahu jalan di Jakarta.”
Mobil mulai jalan meninggalkan gedung Nabella.
“Jadi, bagaimana?” Tanya Ji Joon lagi.
Lily tetap tak berkata apapun.
“Em, kenapa mobil di Indonesia tidak ada navigasinya ya? Aigoo, kemana kita akan pergi ini?”

Para member Crown band masih tidak bisa menemukan Juan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke ruang latihan. Saat pintu terbuka…
“Dari mana saja kalian!” Teriak Juan.
“Kau disini?” Ucap El.
“Kau dari mana saja Juan?” Tanya Iris.
“Kalian yang dari mana?!” Bentak Juan.
Para member diam.
“Aku menunggu kalian 1 jam di sini. Kalian dari mana saja?” Teriak Juan.
Para member tidak berani berkata apapun.
“Cepat ambil alat music kalian dan kembali latihan!” Bentak Juan.
“Bukannya latihan sudah selesai?” Tanya Milo.
“Ssst!”Ucap El.
Juan terlihat sedih sekali dan latihan dengan sangat serius, apalagi saat membawakan lagunya yang berjudul aku tidak bisa mengatakan cinta padamu.

Ji Joon melihat sebuah restaurant di pinggir jalan dan memakirkan mobilnya.
“Ayo Li. Kita turun.” Ji Joon melepas safety beltnya.
“Bisa kita percepat pernikahannya?” Tanya Lily kepada Ji Joon.
Ji Joon yang sudah membuka pintu mobil terkejut dan heran mendengar permintaan Lily.